Ekobis  

Tanaman Porang Sebagai Komoditas Ekspor Menjanjikan, PT JPN Konjac Siap Penuhi Permintaan China

Dibaca : 1613

BINEWS II Kabupaten Bangka – Porang (Amorphophallus oncophyllus) atau yang juga dikenal dengan nama iles-iles yang termasuk family Araceae merupakan jenis tanaman umbi yang mempunyai potensi dan prospek untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Porang atau iles-iles termasuk tipe tumbuhan liar sehingga di kalangan petani Indonesia belum banyak dikenal.

Lain halnya dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagian besar warga masyarakatnya telah mengenal tanaman Porang dengan cukup baik. Seperti halnya dengan PT. Jof Porang Nusantara (JPN) atau lebih dikenal dengan JPN Konjac di wilayah Kabupaten Bangka yang sudah berjalan hampir 3 tahun ini dimulai pada tahun 2021 hingga sekarang ini. Kebun sendiri dengan luasan lahan 100 hektar. PT JPN Konjac juga sudah bekerjasama dengan Dinas Ketahanan pangan dan Pertanian Provinsi Kepulauan Babel.
“Kalau untuk prospek sebenarnya porang sangat menjanjikan, untuk kapasitas kita di pabrik saja belum mencukupi. Saat ini untuk harga terendah yang mencapai Rp 3500 sampai pabrik itupun sudah untung. Dengan catatan pembelian harga bibit sekarang, jangan dibandingkan dengan harga bibit tempo dulu/sekitar 3 tahun lalu. Karena harga bibit 3 tahun yang lalu sekitar Rp 300 ribu perkilo. Kalau saat ini harga bibit Rp 25.000 ribu perkilo. Tapi saya sarankan kepada petani kita janganlah porang ini menjadi komoditas tanaman utama,” terang Edy Suryansyah Direktur PT.JPN Konjac kepada Berita Indonesia News, senin (11/9).

Menurut Edy, dirinya banyak belajar dari para petani yang ada di pulau Bangka dan Jambi maupun di Palembang khususnya untuk Porang ini cukup dijadikan sebagai tanaman Sela diantaranya tanaman sawit yang sudah berumur diatas 10 tahun juga tetap berhasil, serta tidak berpengaruh pada tanaman sawitnya. Namun untuk tumbuh kembangnya tetep besar walau di tanam di sela pohon sawit.

“Cara nanamnya gimana kalau disela pohon sawit..?. Sistemnya kita dua satu artinya disela pohon sawit 1, kosong satu untuk perawatan sawit dan panen sawit agar tetap jalan, dan tanaman porang lagi. Untuk sistem kita pakai dua satu, dua satu,” ucapnya.

Lebih lanjut, Edy mengungkapkan kalau petani mau mengajukan proposal online melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, maka tahun depan petani itu akan segera dibantu bibit beserta pupuk oleh pihak Dinas, melalui kelompok tani (Gapoktan) dari masing-masingnya yang ada di daerah melalui PPL Pertanian.

“Saat ini sudah ada beberapa mitra kita yang berasal dari para petani. Untuk luas hektarnya sekitar 30 hingga 40 hektar. Adapun untuk setiap hektarnya tanaman porang untuk disela pohon sawit sekitar 6000 batang. Rata-rata untuk setiap dua musim tersebut, para petani bisa dapat sekitar 5 kiloan, tetapi tetap dengan ada perawatan,” kata Edy.

Kemudian, dijelaskannya untuk saat ini sendiri sudah ada permintaan bagi pasar ekspor khususnya di Negara China, yang sangat terbuka luas saat ini. Bagi pihak PT JPN Konjac sendiri, untuk permintaan sekitar 6 hingga 8 Kontainer sendiri tidak masalah, tetapi kendala saat ini adanya keterbatasan bahan baku. Sementara ini bahan bakunya dibeli di wilayah Bangka sendiri, Palembang, Jambi dan Lampung.

“Kita hanya bisa menyiapkan bahan baku saat ini paling hanya 1 kontainer perbulan. Sekitar 160 ton umbi. Sedangkan untuk permintaan sendiri bisa mencapai 1000 ton umbi perbulan. Artinya kita hanya bisa memenuhi kuota sekitar 15% permintaan. Kedepannya pihak China ini tetap minta saya untuk menambah kuota ekspor bagi ketercukupan bahan baku untuk mereka, dan meminta kuota bagi kontainer mereka ini. Kalau bisa kita menyediakan bahan baku tersebut lebih banyak lagi. Inilah yang jadi permasalahan kita untuk saat ini,” pungkasnya. (Amin)